lagu

ikut

Showing posts with label artikel. Show all posts
Showing posts with label artikel. Show all posts

Tuesday, January 3, 2017

Media Tebak Kartu Kata Sebagai Pembelajaran Untuk Menambah Mufradat dan Maharatul Qira'ah


MEDIA TEBAK KARTU KATA SEBAGAI PEMBELAJARAN UNTUK MENAMBAH MUFRADAT DAN MAHARATUL QIRA’AH   

Disusun Guna Memenuhi Tugas UAS
Mata Kuliah : Media Pembelajaran Bahasa Arab
Dosen Pengampu : Muflihah, M.A.



Disusun Oleh :
Muchamad Abdurrochman Luthfi
 (1410210029)


SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI KUDUS
JURUSAN TARBIYAH PRODI PENDIDIKAN BAHASA ARAB
TAHUN 2016

A.    Pengertian Media Tebak Kartu Mufradat
Sebuah  lembaga formal tentunya mengutamakan berbagai aspek  dalam pembelajaran,  yakni  diantaranya  bahasa.  Berbagai  metode  pun  digunakan untuk meningkatkan penguasaan aspek tersebut yaitu bahasa. Tentunya metode yang  digunakan  diharapkan  penguasaan  siswa  terhadap  pembelajaran meningkat.  Diantara  metode  tersebut  adalah media visual, media visual  adalah media  yang hanya melibatkan indera penglihatan.Media pandang (bashariyah/ visual) dapat berupa alat  peraga,  yaitu;  benda-benda  alamiah,  atau  tiruan  dan semacamnya . Media  visual  lainnya  adalah  kartu  dengan  segala bentuknya,  yang  meliputi  kartu  huruf,  kartu  kata,  kartu  kalimat serta  kartu  gambar.  Dalam  konteks  pembelajaran  bahasa  Arab, benda-benda  tiruan  dan  gambar  merupakan  media  yang  cukup efektif  untuk  digunakan,  terutama  untuk  pengenalan  mufradat dan pola kalimat . Pada media ini menggunakan media visual kartu huruf (mufradat) dengan  metode game yang   dapat  menggunakan  kartu,  CD, teka-teki/tebakan  (imathah)  dan  juga  bisa  dengan  permainan  dengan menggunakan alat teknologi lainnya. Dalam tahapan  penguasaan bahasa tentu melalui kosa kata terlebih dahulu, yang nantinya akan disusun menjadi sebuah kalimat.
Adapun  yang dimaksud dengan media kartu bermufradat tersebut adalah pengajaran sebagian kosa kata atau mufradat yang diambil dari tema panca indera, warna-warna atau beberapa benda yang ada disekitar sekolah, rumah, dengan menggunakan media gambar yang bertujuan agar  anak didik mengenal dan menguasai kosa kata tersebut dengan baik dan benar.
B.    Media Tebak Kartu Mufradat

    Tujuan Media Tebak Kartu Mufradat
Tujuan  dari  adanya  media  pembelajaran  adalah  agar  siswa  lebih  mudah menangkap informasi yang disampaikan oleh guru, begitu pula dengan media kartu sebagai media pembelajaran  yang tergolong dalam media  yang berbasis visual. Media visual dapat menumbuhkan minat siswa serta memperkuat ingatan siswa. Kartu   ini  dimainkan  dengan  memperlihatkan  gambar  kepada  siswa sambil  mengucapkan  suatu  kata  secara  cepat.  Tujuan  dari  metode  ini  adalah untuk melatih kemampuan otak kanan siswa dalam mengingat gambar dan kata kata, sehingga diharapkan perbendaharaan kata siswa dapat meningkat.

    Langkah-langkah Media Tebak Kartu Mufradat
Cara  menggunakan media tebak kartu mufradat yaitu:
a)    Kartu-kartu  yang bermufradat  disusun,  dipegang  setinggi  dada  dan
menghadap ke depan siswa.
b)    Cabutlah  satu  persatu  kartu  tersebut  setelah  guru  selesai
menerangkan.
c)    Berikan kartu-kartu yang telah diterangkan kepada siswa secara acak
d)    Jika  penyajian  dengan  cara  permainan, siswa  mengamati  kartu-kartu
tersebut dan guru pun menyebut mufradat secara acak melalui kartu yang di pegang guru.
e)    Siswa yang telah memegang kartu mufradat yang di sebut oleh guru harus membuat jumlah menggunakan mufradat yang ada di kartu yang di pegangnya.

C.    Evaluasi Media Kartu Mufradat
Mufradat  sebagai  salah  satu  bagian  penting  dari  komponen  bahasa, baik penggunaan bahasa secara lisan maupun secara tertulis, dan merupakan salah  satu  basis  pengembangan  kemampuan  berbahasa  Arab.  Untuk mengetahui  sejauh  mana  kemampuan  berbahasa  seseorang,  terutama  pada tingkat pendidikan diperlukan adanya tes  yang  mampu menguji kemampuan tersebut. Tes mufradat merupakan jenis tes yang berkaitan dengan penguasaan makna  kosakata  bahasa  Arab,  di  samping  kekemampuan  menggunakannya pada konteks atau tempat yang tepat dalam suatu wacana bahasa Arab.
Adapun  bentuk  tes  mufradat  bahasa  Arab  yang  dapat  digunakan diantaranya adalah sebagai berikut:
a.  Menyebutkan arti kata yang dimaksud
Guru  dapat  meminta  siswa  memberikan  arti  atau  definisi terhadap kosakata yang ditanyakan pada tes.
b.  Melengkapi kalimat (takmilah)
Siswa  dapat  diminta  untuk  melengkapi  kalimat  dengan  kata  yang sesuai.  Bentuk  tes  semacam  ini  biasa  terdapat  pada  tes  pilihan  ganda maupun tes uraian.
c.  Membuat  kalimat
Siswa diminta  untuk membuat kalimat dengan kosakata yang dimaksud.



DAFTAR PUSTAKA
Hamid Abdul, dkk, Pembelajaran Bahasa Arab, Pendekatan, Metode, Strategi, Materi, dan Media, (Malang: UIN-Malang Press, 2008).
Munadhi Yudhi, Media Pembelajaran, (Jakarta: Gaung Persada Press, 2008).

Monday, May 9, 2016

Ilmu Pendidikan Islam Metode Sunan Kalijaga



ILMU PENDIDIKAN ISLAM MENGGUNAKAN METODE DAKWAH SUNAN KALIJAGA

I.                   PENDAHULUAN

Pendidikan sebagai suatu proses dalam pandangan filsafat pendidikan Islam, sebagaimana tidak dapat dilepaskan dari keterkaitan dengan fitrah manusia sebagai makhluk ciptaan Allah SWT. Dengan demikian pendidikan pada hakikatnya adalah rangkaian bimbingan dan pengarahan hidup manusia berupa kemampuan-kemampuan dasar (potensi fitrah) dan kemampuan ajar (Intervensi), sehingga terjadi perubahan dalam kehidupan pribadinya baik dalam statusnya sebagai makhluk individu sosial serta hubungannya dengan alam sekitar dimana ia hidup (M. Arifin, 1994 : 14). Proses tersebut senantiasa harus berada dalam nilai-nilai Islam yaitu nilai-nilai yang melahirkan normanorma Syari’at dan Akhlaq al Karimah.

Pendidikan Islam adalah pendidikan yang bertujuan untuk membentuk pribadi muslim seutuhnya, mengembangkan seluruh potensi manusia, baik yang berbentuk jasmaniyah maupun rohaniyah, menumbuhsuburkan hubungan yang harmonis setiap pribadi manusia dengan Allah, dan alam semesta. Berdasarkan konsep pendidikan islam, salah satu yang menyebarkan  di Indonesia adalah walisongo.[1][1]

Walisongo berarti sembilan wali. Mereka adalah Maulana Malik Ibrahim, Sunan Ampel, Sunan Giri, Sunan Bonang, Sunan Dradjad, Sunan Kalijaga, Sunan Kudus, Sunan Muria, serta Sunan Gunung Jati. Mereka tidak hidup pada saat yang persis bersamaan. Namun satu sama lain mempunyai keterkaitan erat, bila bukan ikatan darah pasti dalam hubungan guru-murid. Mereka tinggal di pantai uatara Jawa dari awal abad 15 hingga pertengahan abad 16, di tiga wilayah penting. Yakni Surabaya-Gersik-Lamongan di Jawa Timur, Demak-Kudus-Muria di Jawa Tengah, serta Cirebon di Jawa Barat.

Tokoh wali yang sangat banyak mengandung misteri adalah Sunan Kalijaga. Ia salah seorang wali yang mulus berdarah Jawa. Bapaknya bernama Ari Teja, perdana Menteri Majapahit pada masa Bhre Kertabumi Brawijaya V, yang juga menjabat adipaati di Tuban dengan gelar Ki Tumenggung Wilwatika. Sebagai penyeru agama, Sunan Kalijaga termasyur ke mana-mana. Ia seorang mubalig keliling yang daerah operasinya sangat luas. Pengikutnya tidak terbatas pada satu dua golongan saja. Banyak kaum bangsawan serta kaum cendikiawan yang tertarik kepada tablignya, karena dalam berdakwah ia amat pandai menyesuaikan diri dengan keadaan. Ia berusha mengawinkan adat istiadat Jawa dengan kebudayan Islam, dan menjadikannya media untuk meluaskan syiar Islam. Dalam kisah kewalian, Sunan Kalijaga dikenal sebagai orang yang menciptakan “pakaian takwa”, tembang-temang Jawa, seni memperingati Maulid Nabi yang telah dikenal dengan sebutan Grebed Mulud. Upacara Sekaten (syahadatain, mengucapkan dua kalimat syahadat) yang dilakukan setiap tahun untuk mengajak orang Jawa masuk Islam adalah ciptaannya (Achmad Chodjim, 2003 : 13).
           
II.                SEJARAH

Sunan Kalijaga lahir pada tahun 1455. Beliau diberi nama Raden Mas Said atau yang bergelar “Sunan Kalijaga” yang merupakan putra dari Ki Tumenggung Wilatikta yaitu Bupati Tuban. Dan ada pula yang mengatakan bahwa nama lengkap ayah Sunan Kalijaga adalah Raden Sahur Tumenggung Wilatikta. Selain mempunyai anak Sunan Kalijaga, beliau juga mempunyai putri yang bernama Dewi Roso Wulan.

Saat Sunan Kalijaga masih kecil, beliau sudah merasakan dan melihat lingkungan sekitar yang kontradiktif dengan kehidupan rakyat jelata yang serba kekurangan, menyebabkan ia bertanya kepada ayahnya mengenai hal tersebut, yang dijawab oleh ayahnya bahwa itu adalah untuk kepentingan kerajaan Majapahit yang membutuhkan dana banyak untuk menghadapi pemberontakan. Maka secara diam-diam ia bergaul dengan rakyat jelata, menjadi pencuri untuk mengambil sebagian barang-barang di gudang dan membagikan kepada rakyat yang membutuhkan. Namun akhirnya ia ketahuan dan dihukum cambuk 200 kali ditangannya dan disekap beberapa hari oleh ayahnya, yang kemudian ia pergi tanpa pamit. Mencuri atau merampok dengan topeng ia lakukan, demi rakyat jelata. Tapi ia tertangkap lagi, yang menyebabkan ia di usir oleh ayahnya dari Kadipaten. Akhirnya ia pun pergi, tinggal di hutan Jadiwangi dan menjadi perampok orang-orang kaya dan berjuluk Brandal Lokajaya. Selain gelar tersebut sebenarnya Sunan Kalijaga juga mempunyai nama-nama lain seperti R. Abdurrahman, Syeh Malaya, Pangeran Tuban serta Jogoboyo.

Pada suatu hari di dalam hutan Jadiwangi itu Sunan Bonang sedang lewat, kemudian ia dihadang dan hendak dirampok. Sunan Bonang berkata pada Sunan Kalijaga, “kelak, kalau ada orang lewat disini, memakai pakaian serba hitam, serta berselendang bunga wora-wari merah, ini sebaiknya rampoklah”. Raden Said menuruti, Sunan Bonang dibebaskan. Kira-kira tiga hari kemudian orang yang ditunggu-tunggu lewat di tempat itu. Raden Said siap menghadang orang itu. Pakaiannya serba hitam, berselendang bunga wora-wari merah. Setelah dihentikan oleh Raden Said, Sunan Bonang berubah menjadi empat. Raden Said ketakutan melihat kejadian itu dan berjanji pada Sunan Bonang untuk mengakhiri perbuatan nistanya itu. Kemudian ia bertapa dua tahun, karena beliau taat pada Sunan Bonang. Setelah bertapa Raden Said pindah ke Cirebon. Disitu beliau bertapa lagi di pinggir kali, bernama Kalijaga. Dari sinilah sejarahnya kenapa beliau bergelar “Sunan Kalijaga”. Lama kelamaan kemudian beliau diambil ipar oleh Sunan Gunung Jati.
Beliau menikah dengan dewi Sarokah dan mempunyai 5 (lima) anak, yaitu:
1. Kanjeng Ratu Pembayun yang menjadi istri Raden Trenggono (Demak)
2. Nyai Ageng Penenggak yang kemudian kawin dengan Kyai Ageng Pakar
3. Sunan Hadi (yang menjadi panembahan kali) menggantikan Sunan Kaijaga sebagai kepala Perdikan Kadilangu.
4. Raden Abdurrahman
5. Nyai Ageng Ngerang.

Dalam suatu cerita dikatakan bahwa Sunan Kalijaga pernah juga menikah dengan Dewi Sarah binti Maulana Ishak, Sunan Kalijaga mempunyai tiga orang putra, masing-masing ialah:
1. Raden Umar Said (Sunan Muria)
2. Dewi Ruqoyah
3. Dewi Sofiyah

Nama Kalijaga menurut setengah riwayat, dikatakan berasal dari rangkaian bahasa Arab “Qadli Zaka”, Qadli artinya pelaksana, penghulu: sedangkan Zaka artinya membersihkan. Jadi Qadlizaka atau yang kemudian menurut lidah dan ejaan kita sekarang berubah menjadi Kalijaga itu artinya adalah pelaksana atau pemimpin yang menegakkan kebersihan (kesucian) dan kebenaran agama Islam.

Masa hidup Sunan Kalijaga diperkirakan mencapai lebih dari 100 tahun. Dengan demikian, ia mengalami masa akhir kekuasaan Majapahit (berakhir 1479), Kesultanan Demak, Kesultanan Cirebon dan Banten, bahkan juga kerajaan panjang yang lahir pada 1541 serta awal kehadiran kerajaan Mataram di bawah pimpinan Panembahan Senopati.

III.             Metode pendidikan

Diantara para Wali Sembilan, beliau terkenal sebagai seorang wali yang berjiwa besar, seorang pemimpin, mubaligh, pujangga dan filosofi. daerah operasinya tidak terbatas, oleh karena itu beliau adalah terhitung seorang mubaligh keliling (reizendle mubaligh). jikalau beliau bertabligh, senantiasa diikuti oleh pada kaum ningrat dan sarjana . Kaum bangsawan dan cendekiawan amat simpatik kepada beliau. karena caranya beliau menyiarkan agama islam yang disesuaikan dengan aliran jaman, Sunan Kalijaga adalah adalah seorang wali yang kritis, banyak toleransi dan pergaulannya dan berpandangan jauh serta berperasaan dalam. Semasa hidupnya, sunan kalijaga terhitung seorang wali yang ternama serta disegani beliau terkenal sebagai seorang pujangga yang berinisiatif mengaran cerita-cerita wayang yang disesuaikan dengan ajaran Islam dengan lain perkataan, dalam cerita-cerita wayang itu dimaksudkan sebanyak mungkin unsur-unsur ke-Islam-an,. hal ini dilakukan karena pertimbangan bahwa masyarakat di Jawa pada waktu itu masih tebal kepercayaannya terhadap Hinduisme dan Buddhisme, atau tegasnya Syiwa Budha, ataupun dengan kata lain, masyarakat masih memagang teguh tradisi-tradisi atau adat istiadat lama.

Diantaranya masih suka kepada pertunjukan wayang, gemar kepada gamelan dan beberapa cabang kesenian lainnya, sebab-sebab inilah yang mendorong Sunan Kalijaga sebagai salah seorang mubaligh untuk memeras otak, mengatur siasat, yaitu menempuh jalan mengawinkan adat istiadat lama dengan ajaran-ajaran Islam assimilasi kebudayaan, jalan dan cara mana adalah berdasarkan atas kebijaksanaan para wali sembilan dalam mengambangkan Agama Islam di sini. Sunan Kalijaga, namanya hingga kini masih tetap harum serta dikenang oleh seluruh lapisan masyrakat dari yang atas sampai yang bawah. hal ini adalah merupakan suatu bukti, bahwa beliau itu benar-benar manusia besar jiwanya, dan besar pula jasanya. sebagai pujangga, telah banyak mengarang berbagai cerita yang mengandung filsafat serta berjiwa agama, seni lukis yang bernafaskan Islam, seni suara yang berjiwakan tauhid. disamping itu pula beliau berjasa pula bagi perkembangan dari kehidupan wayang kulit yang ada sekarang ini.
             
Sunan Kalijaga adalah pengarang dari kitab-kitab cerita-cerita wayang yang dramatis serta diberi jiwa agama, banyak cerita-cerita yang dibuatnya yang isinya menggambarkan ethik ke-Islam-an, kesusilaan dalam hidup sepanjang tuntunan dan ajaran Islam , hanya diselipkan ke dalam cerita kewayangan. oleh karena Sunan Kalijaga mengetahui, bahwa pada waktu itu keadaan masyarakat menghendaki yang sedemikian, maka taktik perjuangan beliaupun disesuaikannya pula dengan keadaan ruang dan waktu. Berhubung pada waktu itu sedikit para pemeluk agama syiwa budha yang fanatik terhadap ajaran agamanya, maka akan berbahaya sekali kiranya apabila dalam memperkembangkan agama islam selanjutnya tidak dilakukan dengan cara yang bijaksana. para wali termasuk didalamnya Sunan Kalijaga mengetahui bahwa rakyat dari kerajaan Majapahit masih lekat sekali kepada kesenian dan kebudayaan mereka, diantaranya masih gemar kepada gemalan dan keramaian-keramaian yang bersifat keagamaan Syiwa-Budha .

Maka setelah diadakan permusyawaratan para wali, dapat diketemukan suatu cara yang lebih supel, dengan maksud untuk meng-Islam-kan orang-orang yang belum masuk Islam. cara itu diketemukan oleh Sunan Kalijaga, salah seorang yang terkenal berjiwa besar, dan berpandangan jauh,berfikiran tajam, serta berasal dari suku jawa asli. disamping itu beliau juga ahli seni dan faham pula akan gamelan serta gending-gending (lagu-lagunya). Maka dipesanlah oleh Sunan Kalijaga kepada ahli gamelan untuk membuatkan serancak gamelan, yang kemudian diberinya nama kyai sekati. hal itu adalah dimaksudkan untuk memperkembangkan Agama Islam.

Menurut adat kebiasaan pada setiap tahun, sesudan konperensi besar para wali, diserambi Masjid Demak diadakan perayaan Maulid Nabi yang diramaikan dengan rebana (Bhs. Jawa Terbangan) menurut irama seni arab. Hal ini oleh Sunan Kalijaga hendak disempurnakan dengan pengertian disesuaikan dengan alam fikiran masyarakat jawa. maka gamelan yang telah dipesan itupun ditempatkan diatas pagengan yaitu sebuah tarub yang tempatnya di depan halaman Masjid Demak, dengan dihiasai beraneka macam bungan-bungaan yang indah. gapura mashidpun dihiasinya pula, sehingga banyaklah rakyat yang tertarik untuk berkunjung ke sana, gamelan itupun kemudian dipukulinya betalu-talu dengan tiada henti-hentinya. Kemudian dimuka gapura masjid, tampillah ke depan podium bergantian para wali memberikan wejangan-wejangan serta nasehat-nasehatnya uraian-uraiannya diberikan dengan gaya bahasa yang sangat menarik sehingga orang yang mendengarkan hatinya tertaik untuk masuk ke dalam masjid untuk mendekati gamelan yang sedang ditabuh, artinya dibunyikan itu. dan mereka diperbolehkan masuk ke dalam masjid, akan tetapi terlebih dahulu harus mengambil air wudlu di kolas masjid melalui pintu gapura. upacara yang demikian ini mengandung simbolik, yang diartikan bahwa bagi barang siapa yang telah mengucapkan dua kalimat syahadat kemudian masuk ke dalam masjid melalui gapura (dari Bahasa Arab Ghapura) maka berarti bahwa segala dosanya sudah diampuni oleh Tuhan.

Sungguh besar jasa Sunan Kalijaga terhadap kesenian, tidak hanya dalam lapangan seni suara saja, akan tetapi juga meliputi seni drama (wayang kulit) seni gamelan, seni lukis, seni pakaian, seni ukir, seni pahat. dan juga dalam lapangan kesusastraan, banyak corak batik oleh sunan kalijaga (periode demak) diberi motif “burung” di dalam beraneka macam. sebagai gambar ilustrasi, perwujudan burung itu memanglah sangat indahnya, akan tetapi lebih indah lagi dia sebagai riwayat pendidikan dan pengajaran budi pekerti. di dalam bahasa kawi, burung itu disebut “kukila” dan kata bahasa kawi ini jika dalam bahasa arab adalah dari rangkaian kata : “quu” dan “qilla” atau “quuqiila”, yang artinya “peliharalah ucapan (mulut)-mu. Hal mana dimaksudkan bahwa kain pakaian yang bermotif kukila atau burung itu senantiasa memperingatkan atau mendidik dan mengajar kepada kita, agar selalu baik tutur katanya, inilah diantaranya jasa sunan kalijaga dalam hal seni lukis. Dalam hubungan ini dibuatnya model baju kaum pria yang diberinya nama baju “takwo”, nama tersebut berasal berasal dari kata bahasa arab “taqwa” yang artinya ta’at serta berbakti kepada Allah SWT.

Nama yang simbolik sifatnya ini, dimaksudkan untuk mendidik kita agar supaya selalu cara hidup dan kehidupan kita sesuai dengan tuntunan agama. Nama Kalijaga menurut setengah riwayat , dikatakan berasal dari rangkaian Bahasa Arab ‘ Qadli Zaka, Qadli – artinya pelaksana, penghulu : sedangkan Zaka – artinya membersihkan. jadi Qodlizaka atau yang kemudian menurut lidah dan ejaan kita sekarang berubah menjadi Kalijaga itu artinya ialah pelaksana atau pemimpin yang menegakkan kebersihan (kesucian) dan kebenaran agama Islam.
Sunan Kalijaga juga membuat syair yang penuh makna dan masih terkenal sampai sekarang. Hampir semua orang pernah mendengar syair tersebut, syair itu berjudul Lir Ilir. Bukan sekedar Syair dolanan .. tapi lagu penuh makna mendalam. Tidak untuk dinikmati syair dan nadanya semata, tapi yang lebih penting adalah untuk direnungkan dan dicontoh penyeruannya. Berikut adalah Syair Lir ilir beserta maknanya.
Lir Ilir
Lir-ilir, lir-ilir tandure wus sumilir
Tak ijo royo-royo tak senggo temanten anyar
Cah angon-cah angon penekno blimbing kuwi
Lunyu-lunyu penekno kanggo mbasuh dodotiro
Dodotiro-dodotiro kumitir bedhah ing pinggir
Dondomono jrumatono kanggo sebo mengko sore
Mumpung padhang rembulane mumpung jembar kalangane
Yo surako… surak hiyo
Terjemahan bahasa Indonesia dari syair diatas kira-kira adalah demikian:
Ayo bangun (dari tidur), tanam-tanaman sudah mulai bersemi,
demikian menghijau terlihat bagaikan pengantin baru
Wahai gembala, ambillah buah blimbing itu,
walaupun licin tetap panjatlah untuk mencuci pakaian
Pakaian-pakaian yang telah koyak sisihkanlah
Jahit dan benahilah untuk menghadap nanti sore
Mumpung sedang terang bulan, mumpung sedang banyak waktu luang
Mari bersorak-sorak ayo…
              
Hijau adalah warna perlambang agama Islam yang saat itu kemunculannya bagaikan pengantin baru dan sangat menarik hati. Hijau juga berarti pertumbuhan dan kemudaan. Syair di atas tidak menuliskan: “Wahai Raja”, "Ulama, Ulama", "Pak Jendral, Pak Jendral", "Intelektual, Intelektual" atau apapun lainnya, melainkan "Bocah Angon, Bocah Angon...". Ini menunjukkan bahwa syair ini ditujukan juga bagi wong cilik, orang kebanyakan. Karena sesungguhnya orang kebanyakan pun mempunyai tanggungjawab atau amanah sendiri-sendiri. Kullukum roin wa kullukum mas’ulum ‘an roiyatih. Ro’in sendiri dalam bahasa arab biasa diartikan sebagai gembala. Masa kecil Rasullah juga seorang gembala. Orang kecil yang mempunyai amanah yang membutuhkan ketekunan dan kesabaran. Harus dipanjat dengan hati-hati untuk memperoleh buahnya, bukan ditebang, dirobohkan dan diperebutkan. Ini menjaga kelangsungan dari berkah sang pohon blimbing agar tetap bisa memberikan buahnya di masa yang akan datang. Air perasan blimbing jaman dahulu biasa digunakan ibu-ibu untuk mencuci pakaian yang kotornya berlebihan. Karena mengandung sifat asam kuat maka baju yang dicuci dengan air blimbing dapat menjadi bersih kembali seperti baru .


Dodot adalah jenis pakaian tradisional Jawa yang sering dipakai pembesar jaman dulu. Bagi masyarakat Jawa, agama adalah ibarat pakaian, maka dodot dipakai sebagai lambang agama atau kepercayaan. Pakaian juga berarti perhiasan. Dan sebaik-baik perhiasan jiwa adalah perhiasan takwa. (fa ta zawwaduu fa inna khoiro zaadi taqwa). Pakaian adalah akhlak, pegangan nilai, landasan moral dan sistem nilai. Pakaian adalah rasa malu, harga diri, kepribadian, tanggung jawab. Pakaianmu, (yaitu) agamamu atau akhlakmu sudah rusak maka jahitlah (perbaiki). Rusak di pinggir-pinggir artinya bukan rusak total tetapi kurang sempurna. Jadi syair ini menuntun kita untuk menyempurnakan agama dengan keimanan dan ketakwaan yang sempurna pula. Udkhuluu fi silmi kaaffah. Jika engkau melanggar atau mengkhianati amanat, tugas dan fungsimu, maka sesungguhnya engkau sedang menelanjangi dirimu sendiri. Menghinakan diri sendiri. Pakaian yang robek-robek ini perlu diperbaiki sebagai bekal menghadap Robbmu yang Maha sempurna. Maka dondomono, jlumatono, jahitlah robekan-robekan itu, utuhkan kembali, tegakkan harkat yang selama compang-camping oleh maksiat yang masih dilakukan. Selagi ada cahaya terang yang menuntunmu, selagi masih hidup dan masih ada kesempatan bertobat. Bersemangat dan optimislah. Selagi hidayah Allah masih bisa diraih. Bergembiralah, semoga kalian mendapat anugerah dari Alloh .
DAFTAR PUSTAKA
Soekirno, Ade. 1997.” Sunan Kalijogo”. Grasindo: Jakarta.
Saksono, Widji. 1994. “Mengislamkan Tanah Jawa (Telaah atas Metode Dakwah WaliSongo)”. MIZAN: Yogyakarta.
Haidar Putera Daulay, Pemberdayaan Pendidikanislam di Indonesia, (Jakarta: Rineka Cipta, 2009).



[1][1] Haidar Putera Daulay, Pemberdayaan Pendidikanislam di Indonesia, (Jakarta: Rineka Cipta, 2009), hlm.6.

Wednesday, December 30, 2015

Artikel Tembang Dolanan sebagai Salah Satu Wujud Peradaban Islam di Jawa



Tembang Dolanan sebagai Salah Satu Wujud Peradaban Islam di Jawa
ARTIKEL
Disusun Guna Memenuhi Tugas
Mata Kuliah : Sejarah Peradaban Islam
Dosen Pengampu : Bpk. Manijo







Disusun Oleh:
Kafia Ansori   (1410210019)



 

SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI KUDUS
JURUSAN TARBIYAH  /  PENDIDIKAN BAHASA ARAB
TAHUN 2015




Tembang Dolanan sebagai Salah Satu Wujud Peradaban Islam di Jawa

Agama Islam mulai berkembang di Jawa kurang lebih pada abad 14 yang disebarluaskan oleh wali songo.Wali Songo adalah sebutan bagi para muballigh yang menyebarkan agama Islam di tanah Jawa. Mereka Semuanya adalah pedatang dari luar nusantara kecuali sunan Kalijaga.
Dalam menyebarkan Islam, wali songo mempunyai strategi khusus dalam berdakwah. Hal ini dikarenakan para sunan hanya memiliki dua pilihan dalam menyebarkan agama Islam, yaitu : menanamkan Islam pada masyarakat dengan menghilangkan semua kebudayaan yang sudah ada atau mengkolaborasikan dua kebudayaan yang berbeda. Para sunan tidak menggunakan kekerasan dalam berdakwah sebagaimana jihad atau memerangi para pembangkang.
Salah satu trateginya dengan melakukan pendekatan kebudayaan sehingga lahirlah berbagai kebudayaan yang menjadi khas di Jawa. Termasuk didalamnya tembang-tembang dholanan yang sering dinyanyikan anak-anak. Tembang-tembang yang sering dilantunkan seperti sluku-sluku bathok, lir ilir, gundul-gundul pacul, dll merupakan materi dan media yang digunakan para sunan untuk menyebarkan agama Islam.
Tembang-tembang tersebut tidak semata-mata dibuat untuk hiburan, melainkan didalamnya terkandung makna-makna kehidupan yang religious. Itu sebabnya masyarakat Jawa sangat mudah menerima Islam sebagai pegangan hidup mereka. Anak-anak yang sering melantuntan tembang yang diajarkan para wali secara tidak langsung mereka mempelajari Islam dan mereka merasa senang dan bahagia. Para orang tuapun juga tertarik dengan tembang-tembang ciptaan sunan, sehingga Islam sangat mudah berkembang pesat di Jawa. Dakwah Islam kepada masyarakat dikemas secara indah dalam sebuah tembang yang enak didengar. Inilah yang menjadikan Islam dapat berkembang lebih cepat daripada di tanah Sumatra ataupun lainnya.



Adapun makna religious yang terkandung dalam tembang-tembang dholanan antara lain :
1.      Gundul gundul pacul
Gundul gundul pacul cul, gemblelengan
Nyunggi nyunggi wakul kul, gemblelengan
Wakul glimpang segane dadi sak latar 2x
Tembang Jawa diatas, konon diciptakan tahun 1400-an oleh Sunan Kalijaga dan teman-temannya yang masih remaja. Tembang tersebut tak hanya tembang mainan, akan tetapi mempunyai arti filosofis yg dalam dan sangat mulia.
Gundul adalah kepala plonthos tanpa rambut. Kepala adalah lambang kehormatan, kemuliaan seseorang. Rambut adalah mahkota lambang keindahan kepala. Maka gundul artinya kehormatan yang tanpa mahkota. Sedangkan pacul adalah cangkul, yaitu alat petani yang terbuat dari lempeng besi segi empat. Pacul adalah lambang kawula rendah yang kebanyakan adalah petani. Gundul pacul artinya: bahwa seorang pemimpin sesungguhnya bukan orang yang diberi mahkota tetapi dia adalah pembawa pacul untuk mencangkul, mengupayakan kesejahteraan bagi rakyatnya.
Orang Jawa mengatakan pacul adalah papat kang ucul (empat yang lepas). Artinya bahwa: kemuliaan seseorang akan sangat tergantung 4 hal, yaitu: bagaimana menggunakan mata, hidung, telinga dan mulutnya.
1. Mata digunakan untuk melihat kesulitan rakyat.
2.Telinga digunakan untuk mendengar nasehat.
3. Hidung digunakan untuk mencium wewangian kebaikan.
4. Mulut digunakan untuk berkata- kata yang adil.
Jika empat hal itu lepas, maka lepaslah kehormatannya. Gembelengan artinya: besar kepala, sombong dan bermain-main dalam menggunakan kehormatannya.
GUNDUL2 PACUL CUL artinya orang yang dikepalanya sdh kehilangan 4 indera tersebut yang mengakibatkan sikap berubah jadi GEMBELENGAN (= congkak).
NYUNGGI2 WAKUL KUL (menjunjung amanah rakyat) selalu sambil GEMBELENGAN (= sombong hati), akhirnya WAKUL NGGLIMPANG (amanah jatuh gak bisa dipertahankan) SEGANE DADI SAK LATAR (berantakan sia2, tak bisa bermanfaat bagi kesejahteraan rakyat)
2.      Cublak-cublak suweng
Masih ingat dolanan saat kita masih kecil dan biasanya dilakukan pas terang bulan ini? Beberapa anak ikut bermain, satu anak duduk telungkup seperti posisi sujud dan memejamkan matanya sementara anak-anak lainnya duduk mengitarinya lalu tangan anak-anak tersebut dalam posisi menengadah menunggu giliran sebuah batu kerikil yang nanti akan jatuh dalam salah satu genggaman tangan seorang anak. Sambil menggilir batu tsb anak-anak menyanyikan lagu ini :
Cublak-cublak suweng
Suwenge ting gelenter
Mambu ketundung gudhel
Pak gempo lerak-lerek
Sopo ngguyu ndelekakhe
Sir-sir pong dele kopong
Sir-sir pong dele kopong
Sir-sir pong dele kopong
Selesai menyanyi lagu itu, anak yang telungkup bangun dan disuruh menebak siapa yang menggenggam batu tsb. Si anak yang telungkup bila salah menebak maka dia akan disuruh telungkup lagi dalam fase permainan berikutnya.
Permainan ini pastilah sudah lama kita tinggalkan. Namun tanpa kita sadari sampai kita dewasa pun kita masih melakukan ’permainan’ ini. Dalam kehidupan sehari-hari. Permainan anak-anak yang akrab bagi masyarakat Jawa ini ternyata mengandung banyak makna dan mengajarkan kehidupan sedari kecil. Konon (katanya) permainan ini awalnya dikenalkan oleh Walisongo.
Permainan ini memang mengajari tentang pencarian harta dalam hidup. Dari lirik lagunya ”cublak-cublak suweng” …suweng artinya hiasan di telinga, lebih berharga daripada anting…identik dengan harta. Bisa diartikan ayolah ”tebak tempat menyimpan harta”
”Suwenge ting gelenter” maksudnya hartanya tersebar dimana-mana. Hal ini terlihat pula dalam permainannya dimana anak-anak menyembunyikan batu kerikil (diibaratkan suweng) lalu beredar dari satu tangan ke tangan yang lain (”suwenge ting gelenter”)
”Mambu ketundung gudhel” = mambu artinya tercium, ketundung artinya yang dituju, sedangkan gudhel artinya anak kerbau….mengapa anak kerbau, bukan kerbaunya? Anak kerbau identik dengan kebodohan(karena masih berwujud anak, yang belum matang alias belum tahu apa-apa). Secara garis besar kabar tentang tempat harta ini mudah tercium (tersiar) oleh orang-orang bodoh.

”Pak Gempo lerak-lerek” = Pak Gempo melirik-lirik (mencarinya). Pak Gempo digambarkan sebagai kebalikan dari gudhel yang masih berwujud anak. Makanya menggunakan kata awalan ’Pak’. Pak Gempo adalah sosok manusia yang telah dewasa dan berusaha mencari harta (’suweng’) tsb. Pak Gempo diwujudkan sebagai manusia yang berakal, beda dengan ’gudhel’ yang hanya anak hewan yang identik dengan kebodohan. Sehingga dianggap Pak Gempo bisa mencari harta tsb. Dalam permainan wujud Pak Gempo adalah anak yang bermainan dalam posisi sujud dan akhirnya dia harus menebak siapa yang menyimpan batu kerikil tsb.
”Sopo ngguyu ndelekakhe” = Siapa yang tertawa pasti menyembunyikan. Di permainannya kita tahu bahwa anak-anak yang lain (yang tidak telungkup) pasti tertawa saat anak yang telungkup berusaha menebak siapa yang menyimpan batu kerikilnya.
” Sir-sir pong dele kopong” = di dalam hati nurani yang kosong. Suatu petunjuk bagi yang ingin mencari harta/menebak di permainan bahwa untuk mencari pelakunya gunakanlah hati nurani.
Bisa ditafsirkan secara garis besar makna dari lagu dan permainan ini adalah sebagai berikut:
Kita sebagai manusia biasa yang tercipta dari tanah. Makanya dalam permainan seorang anak harus telungkup mencium tanah seolah sedang sujud. Hanya manusia biasa yang tak tak tahu apa-apa. Namun manusia tetap ada hasrat nafsu sebagaimana nabi Adam dikeluarkan dari surga karena mencium wanita. Manusia mempunyai hasrat nafsu harta, tahta dan wanita.
Dalam lagu daerah ini manusia tetap memenuhi hasratnya untuk mencari harta (”cublak-cublak suweng”). Namun harta tercecer dimana-mana dan semua orang pasti menginginkannya. Begitu mudahnya tercium ’bau’ harta sampai orang tak berilmu pun tahu, kita tahu bahwa setiap hari ada maling, copet, koruptor yang mengincar harta. Cara terbaik untuk mencari harta adalah dengan hati nurani yang bersih. Tidak dipengaruhi hawa nafsu dsb. Dengan hati nurani akan lebih mudah menemukannya, tidak tersesat.
Kemungkinan maksud Walisongo mempopulerkan permainan rakyat ini untuk menanamkan hati nurani yang ikhlas bila kita hendak mencari harta. Kembali kepada nilai-nilai islami, seperti sedekah untuk mencari harta yang banyak bukan dengan jalan pintas (korupsi). Harta yang dicari dengan jalan cepat akan hilang dalam waktu cepat pula.
Itulah sebagian kecil peradaban Islam yang ada di Jawa dan masih banyak peradaban Islam yang tersebar di tanah Jawa. Kita sebagai seorang Muslim minimal kita mengenali sekilas peradaban yang telah dibentuk oleh para pejuang Islam sebelum kita. Semoga Tuhan selalu merahmati kita.
DAFTAR PUSTAKA
♦ Djaka Lodang, 5 Agustus 1989, GBHN 1993. Surakarta PT Pabelan.
♦ Suwarna & Suwardi. 1996. Integrasi Pendidikan Budi Pekerti dalam
   buku Teks ‘Tataran Wulang Basa Jawa kanggo SD. Laporan
   Penelitian.Yogyakarta: Lemlit,IKIP
♦ Widyatmanta, Siman. (2002), Berbahasa Jawa : Untuk Pelayanan
   Gerejawi dan Masyarakat, Yogyakarta, Taman Pustaka Kristen

Keluarga

Keluarga
Jejak Ora Normal

keluarga

keluarga
Je Ow En